April 16, 2014

Keragaman Indonesia Tertuang di Taman Mini Indonesia Indah (TMII)


Mengenal Taman Mini Indonesia Indah ketika saya duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), jadwal rutin tahunan libur panjang saya isi dengan berlirbur di rumah tante saya yang bertempat tinggal di Cibinong Bogor, kawasan perbatasan antara Bogor dan Jakarta tidak sulit untuk mendapatkan transportasi umum, cukup naik dua kali untuk menuju rute Taman Mini Indonesia Indah. Dari Cibinong bisa menggunakan metro mini jurusan Bogor-Kp Rambutan, lalu di sambung naik angkutan umum jurusan Taman Mini, dengan ongkos dan biaya yang relatif murah, maka tempat wisata ini menjadi favorit keluarga kami.



Pertama kali menginjakkan kaki di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yaitu  sekitar tahun 90-an,  waktu itu saya belum terlalu mengenal TMII lebih jauh, yang saya ingat ketika itu TMII merupakan tempat wisata yang begitu besar, dengan menyajikan rumah adat dari 27 provinsi waktu itu dan sekarang menjadi 33 provinsi lengkap dengan museum, tujuh tempat peribadatan yang mencerminkan kerukunan antar umat beragama serta Taman Flora dan Fauna, kereta gantung dan berbagai wahana permainan lainnya. O’ya tidak kalah pentingnya juga yang menjadi ikon TMII yaitu Keong Mas.

Rupanya dengan hanya sekali atau dua kali mengunjungi TMII itu ternyata tidak cukup, beberapa kali saya mengunjungi TMII untuk menghadiri acara atau berlibur bersama keluarga rasanya tidak cukup, selalu ada tempat yang belum dikunjungi. TMII mempunyai area yang sangat luas dan hingga membutuhkan waktu yang tidak cukup sehari untuk menikmatinya.

Anehnya saya tidak pernah bosan untuk berkunjung ke TMII, miniatur tempat wisata yang digagas oleh Almarhumah Ibu Tien Soeharto merupakan aset bagi bangsa Indonesia. Sarana tempat wisata yang terjangkau bagi semua kalangan, tentunya sangat membantu masyarakat untuk bisa mengenal lebih dekat adat dan budaya dari masing-masing daerah. 


Komunitas BRID
 
Museum Asmat TMII

Buka Puasa Bersama BlueBird di Musem Transportasi TMII

Pertama kunjungan ke TMII pada tahun 90-an, lalu yang kedua kali saat saya tamat belajar SMA yaitu tahun 1999, yang ketiga pada tahun 2012 liburan bersama keluarga, lalu yang keempat pada tahun 2013 gathering bersama komunitas Blogger dengan berkali-kali mengadakan acara di TMII, diantaranya bertepatan dengan ulang tahun TMII yang ke 38 lalu saat TMII bekerjasama dengan salah satu provider yang memfasilitasi jaringan Wi-fi sebagai dukungan TMII, lalu acara di Theater Tanah Airku, serta pembukaan anjungan baru suku Asmat yang baru direnovasi dan acara Buka Bersama dengan anak yatim dan Blue Bird juga sekaligus kegiatan donor darah pada bulan Ramadhan lalu. Sebagai blogger, tentu saya sangat tertarik untuk mengunjungi TMII dimana saya bisa menyampaikan informasi di akun sosial media yang saya miliki seperti blog, facebook dan twitter dengan tujuan agar para masyarakat luas yang membaca bisa mendapat informasi seputar TMII, karena setiap waktu TMII menghadirkan wahana baru untuk bermain seperti SnowBay dan edukasi.

Dalam hati, saya selalu berdecak kagum betapa luar biasa dengan didirikannya miniatur Indonesia. Tempat wisata sekaligus menjadi tempat belajar karena semua anjungan mengandung nilai edukasi untuk menambah wawasan kita tentang Indonesia. TMII begitu sangat istimewa dimata saya, penuh dengan nuansa yang kental dengan unsur Indonesia karena TMII merupakan replika dari Indonesia. 


Bus DAMRI
Bagi yang ekonominya terbatas seperti saya, mungkin bisa terbantu dengan adanya TMII, kita tidak perlu sedih karena tidak punya ongkos untuk hanya sekedar melihat rumah adat, baju adat, peninggalan masa prasejarah dan sejarah, museum-museum tempat penyimpanan atau peninggalan jaman dahulu lengkap dengan informasinya menjadikan kita terasa dimanjakan oleh TMII. Saat berkunjung ke museum transportasi, saya bisa bernostalgia dengan kendaraan jaman dulu dimana ada bus Damri jurusan Cicaheum-Cibeureum, bus ini mengingatkan saya ke beberapa tahun silam dimana bus ini sangat melekat dalam ingatan waktu saya masih berumur 3 tahun, masih bisa merasakan transportasi umum yang telah berjasa ikut mengantarkan rombongan saat pemakaman almarhum kakek saya. Penuh sesaknya rombongan pengantar membuat saya yang digendong oleh tante saya waktu itu menjadikan moment yang tidak terlupakan. Kini saat saya sudah dewasa, saya masih bisa melihat bus yang bersejarah bagi saya. Inilah pentingnya museum, tempat peninggalan benda bersejarah yang bisa dinikmati oleh anak dan cucu kita kelak.

Pentingnya untuk mengenal kebudayaan dari masing-masing daerah sebagai pengingat bahwa kita mempunyai nenek moyang atau leluhur yang mewariskan adat istiadat serta budaya yang beraneka ragam, dan itu harus kita lestarikan dan kita jaga agar keberadaannya tidak musnah. Bentuk kepedulian kecil yang bisa kita lakukan yaitu dengan membudayakan hidup berbudaya.

Di Taman Mini Indonesia Indah, kita bisa belajar secara langsung tentang budaya maupun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Tidak heran sejak jaman dahulu TMII banyak dikunjungi oleh rombongan dari Sekolah-sekolah mulai dari TK, SMP, SMA hingga umum, dan sampai sekarang mudah-mudahan terus berkelanjutan dengan tujuan setidaknya menjadi pengingat bahwa kita kaya akan budaya.

Kenapa hal demikian penting?  Di jaman modern sekarang, budaya yang tergerus oleh kemajuan teknologi digital dengan bebasnya budaya luar yang masuk dan telah mengkontaminasi sebagian besar masyarakat Indonesia hingga cenderung bangga dengan kebudayaan luar, bagi yang berkantong tebal berlomba-lomba berwisata ke luar sana, padahal di negeri nya sendiri tidak kalah hebat dengan di luar sana.

Hingga dampaknya melupakan kebudayaan sendiri, justru sebaliknya Bangsa asing sangat tertarik dengan keaneka ragaman budaya yang kita miliki, sejarah merupakan cikal bakal lahirnya kebudayaan, jika kita tidak memiliki sejarah, apa yang bisa kita banggakan? Dengan hanya mengakuinya saja tidak cukup, kejam rasanya jika kita hanya mengaku-ngaku itu kebudayaan kita tetapi kita membudayakan dalam perilaku keseharian kita.

Anjungan Bali TMII
Anjungan D.I.Jogjakarta TMII
TMII merupakan miniatur Indonesia kental dengan nuansa kebudayaan Indonesia, setiap hari minggu atau hari libur Nasional di tempat anjungan-anjungan tertentu selalu ada pertunjukkan tari tradisional, seperti yang pernah saya lihat ketika berkunjung ke Anjungan Bali dan D.I Jogjakarta. Bagi saya, berwisata tidak cukup dengan kepuasan bathin saja, berwisata sambil belajar tentu akan menamah kesan tersendiri dimana kita bisa menghargai adat dan kebudayaan yang kita miliki.

Bertepatan dengan tanggal 20 April 2014 TMII berulang tahun di usianya yang ke-39, Insya Allah saya akan mengunjungi TMII lagi pada tanggal 3 Mei 2014 untuk menghadiri acara Seni Pagelaran Budaya. TMII menurut saya adalah cikal bakal sejarah budaya yang bisa membangun karakter bangsa lewat kebudayaan.


TMII telah menjadi tempat wisata favorit saya berserta keluarga, sedikit saran saya semoga anjungan-anjungan dari 33 Provinsi bisa memfasilitisasi pengunjung untuk menyewakan baju adat dari masing-masing daerah seperti yang telah ada di anjungan Suku Asmat dengan harga cukup terjangkau, karena sekarang jaman era digital dimana pengunjung bisa memamerkan foto narsis mereka ketika sedang menggunakan baju adat lewat akun sosial media mereka yang secara tidak langsung bisa mempromosikan TMII baik lokal maupun mancanegara  dan semua anjungan-anjungan terus melakukan inovasi untuk menarik minat pengunjung supaya tidak bosan, misalnya  dengan membuka les privat tarian tradisional di semua anjungan.

Rumah Adat Tradisional Sumatra Utara TMII
Kenapa saya menyarankan hal demikian? bermula dari pengalaman saya pribadi saat berada di TMII dan sebagai blogger narsis itu wajib dengan selalu nge twit lewat twitter pribadi maupun facebook saya, dan yang berkomentar di akun saya ada beberapa yang menanyakan adakah les privat tari di TMII? karena saya ingin sekali belajar tari tradisional, yang saya tahu hanya ada di anjungan DIY (Daerah IstimewaYogyakarta) saat itu juga menanyakan langsung saat ada pementasan tari,andai saja semua anjungan ada les tari nya mungkin akan semakin lengkap ya..hehee... Nah dengan adanya permasalahan tersebut semoga TMII bisa memenuhi dan memuaskan pengunjung.

O'ya dalam rangka menyemarakkan HUT 39 Tahun TMII ada beberapa rangkaian acara seperti Pameran Produk Unggulan Daerah (Expo Nusantara), Pameran Bersama Museum, Pameran Keris Paksi, Pawai Budaya Nusantara serta Gelar Tari Kolosal yang sayang kalau kita lewatkan.

Bertepatan di hari jadinya TMII pada tanggal 20 April 2014, sebagai bentuk apresiasi TMII kepada masyarakat dalam rangka memeriahkan HUT TMII ke-39, pengunjung mendapatkan tiket gratis masuk TMII mulai pukul 08.00-16.00. Serta di tanggal 21-25 April 2014 dapatkan tiket promo masuk Buy One Get One.
 
Dirgahayu TMII Ke-39
Dirgahayu TMII yang ke-39 tahun, semoga bisa mengemban tugas yang memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat signifikan dalam pembangunan karakter bangsa, diantaranya telah ditetapkan sebagai:
  1. Aset Negera, berdasarkan Keputusan Presiden RI NO.51 Tahun 1977.
  2. Objek Vital Nasional oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2008.
  3. Taman Satwa Taman Konservasi oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia pada tahun 2010.
  4. Lembaga Pelestarian Budaya Indonesia oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia pada tahun 2011
  5. Wahana Toleransi dan Kerukunan Umat oleh Menteri Agama Republik Indonesia pada tahun 2012.
  6. Wahana Keberagaman Museum, Sumber Inspirasi Peradaban Bangsa oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2013.
  7. Wahana Perekat Persatuan Dan Kesatuan Bangsa oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (pengajuan tahun 2014).
  8. TMII diajukan sebagai nominasi Warisan Budaya Takbenda kategori Best Practices UNESCO oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (sumber: tamanmini.com)
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai sejarah, sebagai warga Negara juga wajib ikut berperan bersama-sama dengan semua pihak untuk melestarikan TMII sebagai asset Negara yang harus kita jaga dan lestarikan.***

Sumber Foto: By Pribadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar