Maret 26, 2014

BNN Sosialisasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Ke Sekolah


Berkerumun dengan para remaja tepatnya para pelajar yang masih unyu-unyu selalu mengingatkan saya ketika dulu masih bekerja sebagai pegawai tata usaha sebuah Sekolah Menengah pertama di Bandung, meskipun saya bukan guru tetapi kebersamaan dan selalu berbaur dengan mereka setiap hari itu yang sering saya lakukan. Intensitas pertemuan yang memungkinkan saling mengenal karakter satu sama lain tentu sangat terasa.


Mereka yang masih polos, namun sesekali mereka sangat kritis dengan pertanyaan kenapa begini dan kenapa begitu, kebandelan mereka yang bersifat manusiawi tercermin dari tingkah laku keseharian mereka di sekolah, beraneka karakter membuat saya tertarik untuk mendekati mereka. Ada yang rajin, ada yang pemalas, ada yang pendiam, ada yang periang dan ada juga yang selalu murung.

Peraturan sekolah yang ketat dengan guru yang 'galak' (tidak bersahabat) menjadi hal yang mengerikan buat mereka, tak ubahnya seperti melihat sosok Baron Araruna pemeran tokoh yang jahat dalam serial film Little Misi. Kekerasan dalam cara mendidik anak didik tentu bukan solusi yang tepat, justru sebaliknya mereka akan menjadi liar dan brutal karena penyampaian  pembelajaran yang salah.

Disini sensitifitas seorang guru sebagai orang tua di sekolah harus kita pahami dan kita pelajari bagaimana cara memperlakukan anak yang suka pemberontak. Sifat seseorang sangat berbeda-beda, ada yang bisa mengendalikan emosinya dan juga sebaliknya. Melakukan pendekatan anak dengan tipe yang tidak bisa mengendalikan emosi memang sangat sulit, apalagi jika anak tersebut mempunyai sifat tertutup, kita jadi tidak tahu apa yang dia inginkan dan dia permasalahkan, jika kita lengah dan tidak memberikan perhatian maka bukan tidak mungkin anak tersebut mencari perhatian di luar, misalnya terjerumus pada pergaulan yang salah dan terlibat pada kasus penyalahgunaan narkoba.

Setiap sekolah tentu memiliki guru pembimbing khusus, dulu sebutan guru ini adalah Guru BP (Bimbingan Penyuluhan) yang khusus untuk menangani siswa/i yang bandel. Biasanya guru BP ini tampilan fisiknya terlihat galak dan judes, tujuannya mungkin agar para anak didik takut dan manut dengan apa yang disampaikan guru tersebut. Lantas apakah para guru BP ini selalu berhasil dalam membimbing anak didiknya ke perilaku yang lebih baik?  Mungkin jawabannya bisa di hitung dengan jari yang bisa berubah, pada faktanya mereka tetap berperilaku tidak baik jika penyampaiannya terlalu menghakimi.

Pada dasarnya mereka hanya butuh perhatian, butuh yang bisa memahami keinginannya, ingin didengar suaranya dan tidak ingin di banding-bandingkan satu sama lain.  Seperti yang kita ketahui bahwa dari setiap masing-masing individu jika ada yang berperilaku tidak baik, seakan tidak ingin dekat apalagi merangkulnya, cenderung memojokkan, menghakimi dan bahkan memperlakukan dengan kasar.



Pada saat menghadiri kegiatan Pergelaran Seni Budaya dan Forum Komunikasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba di gedung Smesco UKM Jakarta yang para undangannya terdiri dari mayoritas pelajar berseragam biru dan abu-abu, ada ketertarikan saya untuk sedikit berbincang mengenai tema yang diangkat pada acara tersebut. Duduk disebelah saya seorang siswa SMP dengan tubuh yang sintal menggunakan kacamata dan saya pun mengawali dengan berbagai pertanyaan pada siswa tersebut.

Sebut saja namanya Rezky, siswa SMP kelas 8 yang mengaku sebagai pengurus OSIS di sekolahnya,
  • Saya : Dik, kenapa tertarik hadir di acara dialog ini? Setahu kakak, adik ini orangnya berperilaku baik.
  • Rezky : Darimana kakak tahu kalau saya orang baik? 
  • Saya : ya, terlihat dari tampilan luar, kepribadian seseorang adalah cermin dari diri sendiri (ujarku sambil melempar senyum)
  • Rezky : Si kakak bisa saja (sambil nyegir) gini kak, (sambung dia menjawab pertanyaan pertama saya, menurut saya acara dialog ini penting bagi saya, dimana saya bisa mengetahui tentang bahaya narkoba.
  • Saya : oh gitu ya? Terus dari BNN apakah pernah sosialisasi ke sekolahmu?
  • Rezky : Pernah, tapi sosialisasinya khusus kepada anak yang bandel, makanya kami para siswa di undang ke acara dialog ini karena memang sudah ada sosialisasi dari BNN ke sekolah kami.
  • Saya : menurut kamu apa sih narkoba itu? 
  • Rezky : itu loh, obat-obat yang bisa fly melayang-layang gitu.
  • Saya : hahaaaa….disela suara ngakak Rezky, sangat tercengan ketika mendengar pendapat dia yg bisa fly. Lho..tahu dari mana kalau narkoba bisa bikin kita fly?
  • Rezky : Mendengar cerita orang dan dari buku bacaan kak.
  • Saya : Apakah sih dampak dari narkoba menurut Rezky?
  • Rezky : Selain harganya mahal, bisa merusak masa depan juga, nanti saya tidak diterima kerja dong setelah lulus sekolah nanti (ujar Rezky)
Karena keterbatasan waktu meskipun saya ingin mengobrol banyak tetapi waktu itu juga saya ingin fokus ke acara, lalu perbincangan yang singkat kami tutup dengan pertanyaan terakhir dari saya, apa harapan Rezky buat BNN untuk para pelajar? Harapan saya agar BNN mau terus bersosialisasi ke sekolah-sekolah untuk memberi penyuluhan tentang bahayanya penyalahgunaan narkoba, karena ini penting buat kami semua agar  kami bisa membentengi diri dari penyalahgunaan narkoba (ujar Rezky menutup pembicaraan)

Mungkin perbincangan di atas sangat umum dan sederhana, tetapi suara dari mereka adalah masukan buat kita agar mau memproteksi mereka sejak dini. Di umur anak seusia Rezky saja sudah tahu kalau narkoba itu mahal harganya, dan ini yang menjadikan pansgsa pasar besar narkoba berada pada Negara kita yaitu Indonesia.

Menuju tahun anti penyalahgunaan, sudah seharusnya Indonesia bergegas untuk memerangi penyalahgunaan narkoba yang bisa menghancurkan bangsa. Kebodohan dan kemiskinan adalah salah satu dampak dari penyalahgunaan narkoba dalam segi perekonomian. Yuk kita bersama-sama untuk menjadikan Indonesia Negeri Bebas Narkoba.***





Tidak ada komentar:

Posting Komentar