Sejarah Cobek Di Masa Pandemi

Rupawon.com

Sejak pandemi, dapur saya selalu menunjukkan aktivitas padat, yang tadinya hanya masak sesekali saja karena malas dan cape kalau harus meracik yang akan dimasak tiap hari. Jadi itu artinya saya tidak terlalu memikirkan perabotan rumah tangga dan baru tersadar ketika keadaan yang mengharuskan saya memasak ketika semua aktivitas beralih dirumah aja.

Selalu berpikiran tentang perkakas rumah tangga yang sering saya anggap remeh, ah buat dipakai sesekali ini (nyempitin rumah aja) ah mending beli saja lebih praktis tidak perlu beli perabotan pula pokoknya dan lain-lain selalu menjadi pertimbangan karena tidak mau menumpuk perabotan yang jarang terpakai.

Padahal sebenarnya tidak boleh berpikiran seperti itu ya, karena ada saat dimana kita pasti membutuhkan meskipun dipakai sesekali akan tetapi yang namanya perkakas rumah tangga itu penting untuk menunjang aktivitas di dalam rumah terlebih saat pandemi seperti sekarang yang mengharuskan kita untuk dirumah aja.


Cobek atau coet kalau bahasa sunda nya, perkakas rumah tangga yang bikin saya lelah dan cape karena suka tertipu apakah Cobek nya batu asli atau semen, perkakas ini menurut saya penting banget karena mayoritas masakan pasti membutuhkan Cobek ini untuk meracik bumbu dan tentunya membuat sambal.

Hingga pada suatu hari saya memaksakan diri untuk membeli Cobek meski dalam hati berkecamuk takut salah beli lagi. Saat saya berada ditoko kelontong saya berkata sama penjual :

Saya : Pak, ada cobek gak?

Penjual : ada, mau yang bagus apa yang biasa? Yang besar apa yang kecil?

Saya : Dengan semangat menatap ke beberapa cobek yang ada didepan mata hingga tatapan tertuju pada cobek berukuran kecil yang menarik hati. Ini saja pak sambil saya ambil cobek kecil yang tinggal satu satunya itu. Tapi ini asli gak pak? Aku suka tertipu aja kalau beli cobek. Apa buktinya kalau ini asli tanya saya

Penjual : Dengan muka adem, penjual itu berkata ya gini aja, kalau kita beli di yang lewat kan itu sekilas mungkin kita tidak akan bertemu lagi dengan yang jual nya tapi ini kan jelas toko nya

Penjual ini sukses meyakinkan saya dan dipikir juga iya, jadi ya saya coba saja lah gimana nanti asli apa engga nya.

Saya : Ya udah deh yang ini aja pak. Transaksi sudah dibayar dan selesai tapi otak saya masih melayang ke asli apa engga dan braaakkk. ... .seketika saya jatuh dihalaman toko itu karena saya tidak menyadari kalau ada anak tangga disitu dan intinya pikiran lagi gak fokus gara gara si cobek ini, hiks sakit sudah pasti karena saat menulis ini pun masih sedikit terasa ini engkel kaki yang bengkak.

Mirisnya lagi tidak ada yang nolong, mereka cuma meringis dan terdengar ada yang mrnjeriy mungkin kaget juga lihat ada yang jatuh, ok berprasangka baik saja mungkin mereka lagi jarak dan takut corona haha bersyukur aku masih bisa bangun sendiri dan berjalan meski dengan terpincang pincang.

Sesampainya dirumah sakitnya belum terasa, baru pas malam kaki mulai bengkak dan nyutnyutan, aku biarin tanpa tindakan dan obat apapun, alhamdulillah berangsur pulih dan kini saya rajin bikin sambal, rujak dan olahan yang harus diulek pokoknya lagi semangat masak dan ulek ulekan hahaha.

Tapi kecemasan saya tentang asli apa engga terbayarlah ternyata cobeknya batu asli hehe. Cobek inilah perkakas yang mendadak saya beli saat pandemi dan punya nilai sejarah dengan jatuhnya saya waktu itu hehe.

Selalu berpikir positif dalam setiap kejadian itu yang membuat kita dijauhkan dari sifat mengeluh yang tidak ada faedahnya. Saat situasi seperti pandemi ini banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil, semoga kedepan kehidupan kita bisa normal kembali dan bisa menjalani hidup lebih baik dari hari sebelumnya.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekarang Praktis Pesan Tiket Bus Budiman Bisa via Online

Mengenal Lebih Dekat Keberagaman Dan Indahnya Alam Papua

Sisi Lain Dari BJ Habibie