Langsung ke konten utama

Kehormatan Bertemu dan Photo Bersama Sultan Arief Natadiningrat

Menceritakan budaya dan peninggalan sejarah yang ada di Indonesia memang sangat luas dan seolah tidak ada habisnya untuk kita ketahui maupun dipelajari. Bangsa yang begitu besar dengan keaneragaman budaya dan peninggalan pusaka seakan kita takjub dan banggga karena kita masih berkesempatan untuk melihat dan mengetahui sejarah benda maupun bangunan yang masih kokoh berdiri.



Kali ini saya berkesempatan untuk mengikuti trip ke Cirebon bersama rombongan Indosat, kegiatan ini intinya untuk dalam rangka Grand Final PhotoHunt3 2013 bertema Human Interest dengan pengambilan gambar di sekitar pasar Kanoman. Saat itu saya baru pertama kali menginjakkan kaki di Cirebon. Sebelumnya saya hanya mendengar dan hanya lewat saja, ketika saya menginjakkan kaki pertama kalinya di Cirebon Jawa Barat saya langsung mengunjungi keraton Kanoman yang letaknya persis berada di belakang pasar Kanoman.



Bangunan peninggalan zaman dahulu terasa sangat kental dan terasa berbeda ketika kita menginjakkan kaki di bangunan itu, pikiran dan halusinasi saya seakan mengingatkan pada orang-orang yang menghuni keraton tersebut, membayangkan suasana zaman dahulu di kraton ini lengkap dengan adat istiadat budaya serta tradisi dari kehidupan Raja dan kerabatnya. Untuk menelusuri Kraton ini, kita tidak perlu bingung ketika kita ingin penjelasan mengenai sejarah bangunan dan peninggalan benda pusaka yang berada di sekitar Keraton ini.



Pengunjung telah disediakan guide oleh pihak setempat dengan pakaian adat khas Jawa Barat. Penyampaian guide yang ramah dan sabar untuk menjawab pertanyaan pengunjung yang ingin tahu makna dan arti apa yang ada pada bangunan dan benda serta peninggalan sejarah yang ada di Keraton Kanoman. Keraton Pakungwati dibangun pada tahun 1430 oleh salah satu putra mahkota Pajajaran yaitu Raden  Walasungsang atau Pangeran Cakrabuana. Dari ketrunan Prabu Siliwangi ada 3 yaitu, Pangeran Walasungsang, Nyi Mas Lara Santang dan Kian Santang.

Kadatangan salah satu abdi yang bernama Syarif Hidayatullah ke Cirebon untuk berguru kepada Pangerannya bernama Walasungsang Kraton ini berubah nama menjadi Keraton Kasepuhan, sedangkan Kraton Kasepuhannya dibangun pada tahun 1529 tetapi yang membangun kratonnya bukan Sunan Gunung Jati, tetapi keponakannya yang bernama Pangeran Mas Muhammad Arifin. Dan dari bangunan-bangunan keraton ini terdapat nama-nama tempat yang mengandung arti dan sejarahnya.

 Dihalaman depan terdapat sebuah lapangan Sangkalabuana yang digunakan untuk latihan para prajurit dalam perang atau tempat pertemuan akbar dengan warga setempat, sedangkan di sebelah Barat terdapat Masjid Agung yang megah peninggalan wali bernama Sang Cipta Rasa. Ketika memasuki gerbang utama terdapat bangunan candi yang dinamakan Siti Inggil yang berarti bangunan tunggi. Dan bagian depan terdapat pendopo yang bernama Mande Malanggumirang yang digunakan untuk istirahat buat raja dan diapit oleh pendopo kecil disebelah barat bernama pancaratna dan disebelah timur bernama pancaniti yang digunakan sebagai tempat istirahat prajurit.



Cukup panjang untuk menjelaskan nilai sejarah yang ada di Keraton Kasepuhan ini, setiap sudut bangunan dan arsitektur mengandung makna yang tersirat didalamnya tidak sekedar membangun atas dasar seni atau hal lainnya tetapi lebih ke arti makna dan silsilah dalam lingkupan keraton. Bangunan candi dan tembok bata merah berdiri kokoh dengan hanya menggunakan material getah aren dan putih telor. Fantasis bukuan? Dari getah tumbuhan dan putih telor bisa menjadi material yang kokoh sampai sekarang, disinilah bukti Indonesia kaya akan sejarah.





 
Lantai dibawah pendopo tempat beristirahat raja pun dibiarkan sedemikian rupa tidak mengalami revitalisasi dari tahun 1529 sampai sekarang sebagai bukti sejarah. Setelah berkeliling sekitar keraton kasepuhan, tidak saya duga akan bertemu langsung dengan Sultan Arief Natadiningrat, beliau orangnya ramah dan menyapa saya dan teman-teman. Dari mana kalian?? Ujar beliau, lalu kami kompak menjawab dari Jakarta. Dan kamipun tidak melewatkan kesempatan untuk berphoto bersama dengan beliau dan kerabatnya.



Photo bersama Sultan Arief Natadiningrat menjadi selesainya kunjungan saya ke Keraton Kasepuhan Cirebon Jawa Barat waktu itu, sangat beruntung bisa bertemu beliau langsung dan bisa mengunjungi serta mempelajari Sejarah di Kota Cirebon. Lestarikan dan cintai sejarah budaya yang ada di Indonesia itu bentuk rasa syukur dan menghormati serta menghargai leluhur kita.***

Sumber : Photo Pribadi

Komentar

  1. wah, asyik isa jadi finalis photohunt ya... jalan2 gratis...

    liputannya keren...

    BalasHapus
  2. Sabda awal : saya bukan finalisnya tpi blogger yg d undang utk meramaikan acara :)

    BalasHapus
  3. Wong ndeso : iye kang, mumpung ada ngajak :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima Kasih sudah mampir ke blog saya, semoga berkesan dan bermanfaat dan jangan lupa boleh tinggalkan jejak dengan memberi komentar, Bye..

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Budaya Batak Yang Unik Dan Beragam Di Wedding Batak Exhibition 2024

Wedding Batak Exhibition 2024 Indonesia dengan keberagaman adat dan budaya menjadikan aku sebagai Bangsa Indonesia yang bangga bisa tinggal di negara yang kaya dengan adat dan budaya. Kagum akan semua kebudayaan dan sangat tertarik ingin mempelajarinya, tak terkecuali budaya Batak sebagai suku leluhur keluargaku yang semuanya belum aku pahami, karena opung doli yang kami cinta sudah berpulang lebih dahulu pada waktu aku masih kecil, jadi tidak sempat belajar dan tanya jawab, hehe. Batak, yang menurut banyak orang di cap dengan watak keras dan nada bicara yang tinggi seolah menggambarkan orang Batak itu "galak", padahal tidak demikian, pernah dengar sejarahnya kenapa orang Batak kalau berbicara nadanya tinggi itu karena jaman dahulunya kan mereka hidup berpencar saling berjauhan dan tinggal di hutan gitu, jadi komunikasinya dengan berteriak jadi terkesan galak. Kalau salah koreksi ya!.  Kembali ke Laptop!  Batak Untuk Indonesia Menyambung dengan event yang digelar di CFD Sarin...

Pagelaran Budaya Batak Wedding Batak Exhibition 2024

  Adat adalah Identitas, adat lebih dahulu ada sebelum Republik Indonesia terbentuk, adat harus dihormati dan dihargai ~ Glenn Fredly  Foto: dokpri Bisa dibayangkan kalau seluruh manusia di dunia hidup tanpa adat dan budaya?, mungkin kehidupan tidak akan mengalami kemajuan teknologi, tidak pintar, zaman akan tetap primitif, tidak ada tarian dan nyanyian khas yang menggambarkan suku tertentu. Indonesia yang kaya dengan adat, budaya dan suku, aku bersyukur menjadi bagian dari negara Republik Indonesia, keberagaman adat budaya yang selalu menarik untuk diulik, rasanya belum semua aku pelajari dan mengenalnya karena terlalu banyak dan beragam. Hidup dilingkungan dari suku Batak, menjadikan aku sangat tertarik dengan adat dan kebudayaan leluhur, setiap apapun itu yang berhubungan dengan adat entah itu ketika sedang ada perayaan pernikahan, kelahiran maupun kematian sudah pasti berbeda antara suku satu dengan suku yang lainnya.  Sedari kecil dibesarkan sama opung doli dan opung...

Selalu Waspada Dari Berbagai Macam Penipuan Online Yang Selalu Mengintai

Dompet digital (e-wallet) pada zaman sekarang ini sepertinya sudah menjadi hal yang krusial, karena  sangat membantu mempermudah urusan financial dengan cepat tanpa ribet. Mau transfer uang, mau bayar IPL tidak harus mengetuk pintu pak RT, mau bayar sekolah tidak harus ke ruang Tata Usaha, bayar listrik gak harus ke PLN  dan mau jajan pun tidak perlu ngubek-ngubek tas cari uang receh, tinggal bayar lewat smartphone, semua langsung beres tanpa buang-buang waktu dan energi. Sesimple itu ya hidup dijaman sekarang. Era digital yang serba cepat dengan segala kemudahannya, tentu ada risiko yang mengintai para penggunanya, semua bisa saja jadi korban tanpa pandang bulu. Semakin canggih teknologi maka semakin tinggi juga permasalahan yang dihadapi. Banyaknya penipuan yang memanfaatkan celah digital semakin sini semakin tinggi kasusnya, karena data pribadi seperti KTP bisa saja disalahgunakan oleh penipu, dan itu bisa berakibat buruk bagi kita. Hal ini menunjukkan betapa rentannya kita...