Ketika Alam Menunjukkan Kekuasaannya



Hidup di alam yang katanya merupakan surganya dunia yaitu Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah ternyata hanya isapan jempol semata buat mereka yang tidak merasakan indahnya surga dunia. Masih banyak gugusan pulau yang menjadi tempat hunian sejumlah penduduk dibelahan bumi ini yang sangat memprihatinkan akibat dari ulah kita sendiri yang kurang atau tidak mau memahami atau turut serta untuk melestarikan alam.

Mungkin kita sudah banyak mencemari atau merusak alam dengan atau tanpa sengaja, sehingga mengakibatkan perubahan iklim yang berdampak pada pemanasan global. Entah itu faktor dari polusi asap kendaraan, pembakaran hutan, penebangan hutan secara liar untuk kepentingan pribadi. Dari semua faktor diatas mungkin kita tidak pernah menyadari atau tidak ingin tahu kalau dampak dari perbuatan kita sekecil apapun bisa berakibat merugikan orang disekitar kita.

Keegoisan kita tanpa mau menyadari akibat dari ulah kita sangat nyata tertpampang dengan banyaknya potret kemiskinan disejumlah wilayah. Mungkin dari kita banyak yang tahu tentang pemberitaan di media cetak, televisi, dan media online lainnya yang memberitakan kemiskinan di sejumlah wilayah yang berdampak pada kelangsungan hidup mereka.  Seperti mereka yang tidak terfasilitasi aliran listrik dengan mudah, mereka hanya mengandalkan mesin tenaga surya atau uap dan tenaga air. Nah apa jadinya jika perubahan iklim ini terus terjadi? Otomatis ini akan mempengaruhi perekonomian mereka.

Mahalnya biaya untuk mendapatkan listrik tidak akan sebanding dengan yang mereka dapatkan, kendala faktor cuaca kerap mereka alami, mayoritas dari mata pencaharian mereka dapatkan dari hasil bertani dan berkebun, dan mungkin pendapatan mereka tidak sebanding dengan pendapatan yang mereka terima karena harga yang didapatkan dari pengepul sangat berbanding jauh dengan harga yang dibeli dari mereka setelah hasil panen tiba di kota. Kebayangkan jika mereka harus membayar tagihan listrik yang tidak sesuai dengan pembayarannya karena listrik yang mereka dapatkan dari hasil pembangunan warga sekitar dengan mengandalkan alam dan dikelola secara manual, jadi sangat wajar jika harganya mahal.

Berbagai kendala kerap mereka temui jika alam sedang tidak bersahabat, listrik tidak akan mengalir secara optimal, dengan cuaca yang bagus saja sudah terbatas pemakaiannya apalagi dengan cuaca yang tidak bersahabat. Faktor alam dan perubahan iklim di bumi sangat besar dampak buruk yang diterima oleh semua ekosistem yang ada di bumi terutama pada manusia. Tak jarang atau mungkin hal ini yang memicu kemiskinan yang menyebabkan tidak didukungnya aktivitas mereka dengan sarana yang  memadai.

Jangankan listrik, untuk kebutuhan air bersih saja masih menjadi persoalan yang serius, sungguh tidak masuk akal jika di pedesaan masih sulit untuk mendapatkan air bersih,. Banyak tayangan televisi yang menyajikan berita tentang berbagai sulitnya permasalahan  mereka karena tidak merasakan merdekanya menikmati alam. Sulitnya sumber mata air di sejumlah wilayah meskipun musim penghujan namun air bersih sangat sulit didapat hingga di suatu wilayah para pelajar setiap hari membawa jeligen untuk kemudian diisi air ketika jam pulang sekolah. Mereka beramai-ramai dan silih berganti menimba air dari sumur.


Para siswa dan siswi ini bahu membahu tidak hanya untuk mereka bawa pulang, tetapi pada jam istirahat, mereka kompak bergotong royong untuk memenuhi kebutuhan air di lingkungan sekolah mereka. Entah tidak ada biaya untuk membuat sumur di rumah masing-masing/sekitar dekat lingkungan tempat tinggal mereka atau faktor lingkungan sehingga mereka cukup sulit untuk menempuh perjalanan dengan berbagai medan magnet yang mereka lalui. Jalan yang mereka tempuh yang jauh dan berliku tak jarang mereka terjatuh dan air yang dibawanya tumpah sehingga siswa yang lain rela berbagi air.

Jika kita renungkan betapa pengaruh perubahan iklm sangat berdampak pada kelangsungan makhluk yang ada dibumi ini, kebodohan dan kemiskinan mungkin ini yang akan kita dapatkan jika kita selalu lalai untuk menjaga alam ini. Namun tentu tudak semua orang tidak peduli dengan lingkungan alam, namun mungkin satu berbanding sepuluh antara orang yang sadar lingkungan dan orang yang tidak sadar lingkungan,  sehingga dampaknya sangat jelas karena ketidak seimbangan.


Menanamkan untuk mencintai alam pada usia sejak dini itu sangat penting, terus memberi pengarahan dan mempraktekkan menanam pohon dilingkungan rumah atau sekitarnya. Seperti kegiatan yang diadakan di sekitar situ gede kawasan Bogor, ketika itu saya diundang dalam acara penanaman pohon yang bertepatan dengan hari Pohon sedunia. Tentunya kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari anak-anak, sebagai kita ketahui dunia anak itu indah jika menyatu dengan alam.



Tidak hanya itu, mereka juga diajarkan membuat kerajinan dari daun dan ranting yang telah gugur dan mengering, bahkan di sejumlah wilayah juga sudah menngunakan pemanfaatan sampah daur ulang yang menghasilkan uang. Sampah yang sering kita anggap sepele dan menjijikan ternyata bisa mendapatkan keuntungan jika kita kreatif. Selain itu juga kita bisa meminimalisir sampah plastik yang bisa mencemari tanah dan hindari membakar sampah meskipun itu berupa pohon kering karena sisa pembakaran berupa abu tersebut jika kita hirup berbahaya buat paru-paru.

Dimulai dari diri sendiri untuk memilah sampah organik dan non organik, untuk sampah organik kita bisa pergunakan bahan tersebut sebagai bahan pupuk kompos dan untuk non organik kita bisa memanfaatkannya untuk hand made yang cantik atau dikumpulkan ke Bank sampah yang sebagian daerah sudah ada. Jika kita menerapkan pola hidup seperti ini, sekali mendayung dua pulau terlampaui artinya kita bisa menjaga lingkungan dari dampak pemaasan global yang banyak merugikan seluruh penghuni alam dan disamping itu kita bisa menambah penghasilan dan membuka peluang usaha khususnya di bidang seni dan kerajinan.

Saya sangat mendukung dengan adanya Oxfam, Oxfam adalah konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan. ***

Sumber: Foto Pribadi

4 komentar:

  1. pemerintah kota Denpasar sudah mencanangkan program pemisahan limbah organik rumah tangga saat ini :D
    smoga alam kita makin hijau :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, Semoga bisa menginspirasi kota lainnya yg belum mencanangkan program ini :)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.