November 01, 2013

Wayang Golek Karya Generasi Anak Bangsa

Pengrajin Wayang Golek | Potret Mahakarya Indonesia Karya Thomas
Kesenian tradisional khas Jawa Barat ini memang sangat unik sekali, terlihat dari cara pembuatannya yang terlihat rumit dan butuh ketelitian yang ekstra. Seni ukir pahat dengan menggambarkan tokoh pewayangan yang di pahat dalam media kayu tentu seni ini tidak bisa kita anggap remeh dan sepele. Namun ada hal yang bikin saya haru dan bangga, sebagai warga Jawa Barat saya hidup di lingkungan rumah dekat dengan Sekolah Yayasan Atikan Sunda (YAS) Bandung, sekolah ini dari mulai SD sampai SMU ada dalam satu lingkupan.

Yang menarik di sekolah ini yang saya tahu dari setiap siswa SLTP program keseniannya adalah membuat seni pahat wayang golek sama hal nya dengan pengrajin wayang golek di foto saudara Thomas di Potret Mahakarya Indonesia yang telah menjadi inspirasi tulisan ini, hal ini mengingatkan pada adik saya yang kebetulan sekolah di SLTP YAS pada waktu sekitar tahun tahun 90-an dan adik saya sudah jago bikin kerajinan wayang golek, namun sayang saya tidak punya mempunyai dokumentasi hasil dari kerajinan adik saya karena tahun 90-an social media tidak pesat seperti sekarang dan kamera pun di bilang langka pada saat itu karena masih banyak menggunakan film.

Dalam adat sunda, tokoh dalam pewayangan memang sangat identik dengan hal yang berkaitan dengan mitos. Menurut orang tua zaman dahulu, jika seorang laki-laki yang mempunyai istri sedang hamil kemudian membuat kerajinan wayang  golek maka harus bilang amit-amit jabang bayi dan harus dikerjakan sampai selesai tidak boleh setengah-setengah untuk menghindari hal yang tidak diinginkan pada si jabang bayi yang masih dalam kandungan.

Ada lagi adat yang selalu digunakan pada acara tujuh bulanan yaitu acara memandikan perempuan hamil dengan usia kandungan tepat menginjak tujuh bulan. Dalam adat ini saat perempuan hamil dimandikan dengan memakai penutup kain sarung lalu orang yang biasa memandikan atau di sebut paraji (bidan kampung) memasukan kelapa hijau yang masih muda yang sudah di kasih ukiran sketsa wayang golek dengan sebelah kiri sketsa Arjuna dan sebelah kiri lagi sketsa Dewi Sinta, lalu dari bawah calon ayah yang merupakan suami perempuan tersebut menampannya dari bawah  kemudian calon ayah membelah kelapa tersebut sampai terbelah menjadi dua bagian.

Jika kelapa itu terbelah cenderung besar ke sketsa gambar tokoh Arjuna berarti bakal calon anaknya laki-laki, sebaliknya jika cenderung lebih besar dari sketsa gambar Dewi Sinta berarti bakal calon anaknya adalah perempuan. Terlepas benar atau tidaknya semua tergantung atas kehendakNya, namun sebagai masyarakat pun tentu kita harus menghargai sejarah dan adat istiadat setempat namun jangan sampai berujung pada kemusyrikan.

Setiap daerah tentu punya adat dan tradisi yang berbeda dengan segala mitos dan sejarahnya, sebagai bangsa yang besar tentu kita tentu harus bangga dan mengapresiasikan mahakarya Indonesia. Penyair Rendra pernah mengingatkan, bila standard akal sehat masyarakat merosot maka penyair (budayawan?) yang terpanggil untuk menjaganya dengan cara menyadarkan hidup lewat karyanya.

Tiga hal yang harus kita sadari untuk menjaga sejarah dan budaya kita yaitu dengan :
  • Orang-orang harus dibangunkan.
  • Kesaksian harus diberikan.
  • Agar kehidupan terjaga
Kesadaran pentingnya pendidikan  yang berorientasi pada pembentukan pribadi masih tergantung pada beberapa komunitas non formal. Pentingnya  latihan kepekaan panca indra, kepekaan naluri, dan kepekaan batin sampai mampu mendidik kesadaran panca indra, kesadaran pikiran, kesadaran naluri dan kesadaran batin.

Setelah menempuh  beberapa waktu lamanya secara tekun menjalani latihan-latihan semacam ini maka kita akan merasa hidupnya berisi. Berkarya membutuhkan sarana untuk membaca masa lalu dan menyatukan dengan kenyataan masa kini dan ketika berhasil menelorkan karya, maka karya nya kuat hingga kenyataan di masa depan. Selamat berkarya.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar